Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2013

Prediksi: Pada Tahun 2035 Banyak Manusia Lumpuh Karena Alat Ini

Asalasah ~ Di perkirakan pada tahun 2035 sebanyak 20.000 lebih manusia akan mengalami kelumpuhan, hal ini di sebabkan kemajuan teknologi yang sangat pesat sehingga banyak manusia dapat melakukan aktivitas serba instan, dari mengemudi hingga membuat masakan tinggal pencet tombol.

Peneliti juga memperkirakan bahwa di tahun 2035 sebuah teknologi Brain Computer Interface dapat di gunakan oleh manusia. BCI merupakan sebuah sensor internal untuk untuk mendetksi aktivitas sel otak dan prosesor internal yang mengkonveksi sinyal otak menjadi output melalui komputer sehingga manusia tidak perlu melakukan banyak gerakan dan cukup memikirkan apa yang ingin di lakukan kemudian komputer akan melaksanakan tugas sesuai dengan apa yg manusia pikirkan.

BCI terutama untuk orang dengan gangguan parah motor dari cedera tulang belakang, ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau penyakit lain motor neuron

"Ini jelas mengubah hidup saya, saya benar-benar terjebak di kursi selama beberapa tahun setelah kecelakaan Kami telah menghubungkan segala sesuatu di apartemen saya dengan komputer yang saya kontrol dengan pikiran saya. Dengan tangan robot di kursi saya saya bisa membuka freezer, mengambil makanan yang saya inginkan, dan memasak nya dengan bantuan robot", jelas Steve Nelson dari Hoboken, New Jersey yang telah menggunakan teknologi BCI selama 3 tahun

Baca Juga:  

Minggu, 18 Agustus 2013

Ternyata Otak Manusia Punya Sistem Navigasi GPS

Otak Manusia Ternyata Punya Sistem Navigasi GPS
Asalasah ~ Sebuah jenis sel otak yang selama ini dikenal untuk membantu hewan melacak lokasi ternyata juga ditemukan pada manusia. Studi baru para peneliti ini menemukan untuk pertama kalinya sel otak pada manusia memiliki sistem navigasi GPS.

Peneliti menemukan neuron, yang disebut sel jaringan, karena mereka diaktifkan dalam otak peserta penelitian dalam menjelajahi lingkungan virtual. Para peneliti mengungkapkan, sel-sel ini berfungsi seperti sistem GPS internal, dan juga mungkin memainkan perannya dalam memori.

"Sel-sel jaringan memberitahu seseorang di mana mereka berada dalam lingkungan mereka," kata Joshua Jacobs, peneliti dari Drexel University di Philadelphia, Amerika Serikat seperti dikutip dari laman NBC News, Ahad 11 Agustus 2013. Pada hewan, sel memberikan semacam tongkat pengukur untuk navigasi.

Pada akhir 1970-an, para ilmuwan menemukan neuron dalam hippocampus (pusat memori otak) yang aktif pada tikus ketika hewan-hewan itu berada di tempat tertentu. Ternyata sel-sel ini kemudian juga ditemukan pada manusia.

Pada tahun 2005, para ilmuwan menemukan sel-sel jaringan , yang memberikan masukan untuk menempatkan sel pada tikus, lalu pada kelelawar dan monyet. Sebuah studi pencitraan resonansi magnetik fungsional mengisyaratkan bahwa sel-sel jaringan itu juga terdapat pada manusia, tetapi studi baru ini masih perlu pembuktian yang kuat.

Jacobs dan rekan-rekannya mengasah lebih dalam penelitian pada sel-sel jaringan manusia menggunakan elektroda ditanamkan di otak pasien pada pengobatan epilepsi yang resistan terhadap obat. (Elektroda yang digunakan untuk membantu dokter menemukan asal kejang pasien.)

Dalam studi tersebut, para peserta penelitian memainkan simulasi permainan virtual nyata pada lingkungan luar. Mereka diminta untuk menemukan lokasi berbagai benda, seperti botol air dan sepeda. Benda tersebut akan hilang, dan peserta harus menavigasi atau melacak ke bekas lokasi obyek menggunakan joystick.

Selama tugas, para ilmuwan mendeteksi aktivitas sel-sel jaringan di daerah otak yang disebut korteks entorhinal, yang terlibat dalam memori, dan dipengaruhi oleh penyakit Alzheimer. Dalam studi tersebut, sel-sel menjadi aktif dalam pola jaringan segitiga, membentuk sistem koordinat untuk melacak gerakan seseorang.

Temuan ini membantu mengungkap bagaimana manusia melakukan pelacakan atau navigasi, dengan menunjukkan bahwa kita menggunakan mekanisme lokasi yang mirip dengan tikus dan hewan lainnya.

Beberapa bukti pada awalnya menunjukkan sistem sel jaringan otak berevolusi untuk mendukung navigasi pada hewan. Namun pada manusia, struktur otak yang sama juga terlibat dalam memori.

"Ini bisa membantu menjelaskan banyak penyakit yang terlibat dengan orientasi spasial," kata Jacobs. Orang dengan penyakit Alzheimer sering menjadi disorientasi terhadap suatu hal, dan mungkin pengobatan dengan menargetkan sel-sel jaringan mereka bisa membantu.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/12/061503712/Otak-Manusia-Ternyata-Punya-Sistem-Navigasi-GPS

Minggu, 11 Agustus 2013

Penelitian: Orang Sombong dan Licik Dihukum oleh Evolusi

Penelitian: Orang Sombong Dihukum oleh Evolusi
Asalasah ~ Jika Anda orang yang sombong dan licik, bersiaplah untuk menghadapi hukuman yang dijatuhkan oleh evolusi. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asal Michigan State University (MSU) menjabarkan bukti baru mengenai hal tersebut.

"Untuk waktu yang singkat, secara spesifik, beberapa organisme akan keluar. Namun kesombongan bukanlah hal yang bersifat evolusioner," ujar Chrsitoph Adami, profesor mikrobiologi di MSU, Jumat 2 Agustus 2013.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications ini berfokus pada teori permainan yang biasa digunakan oleh para pakar biologi, ekonomi, politik, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Sepanjang 30 tahun terakhir, para ilmuwan mempelajari kerja sama antara organisme sel tunggal hingga dapat membentuk kehidupan manusia.


Pada 2012, sebuah makalah menyebutkan tentang strategi penemuan baru yang dinamakan zero determinant. Studi ini menyatakan orang licik sudah pasti dikalahkan oleh orang yang kooperatif.

"Makalah itu menyebabkan kehebohan," ujar Adami. Bersama ilmuwan MSU lainnya, Arent Hintze, dia melakukan riset lewat pendekatan mikrobiologi dan molekuler. Hasil riset menunjukkan sesuatu yang benar-benar baru dibandingkan penelitian yang dilakukan selama 30 tahun belakangan.

Adami dan Hintze meragukan strategi zero determinant yang secara esensial mengeliminasi kerja sama dan justru berpotensi menambah orang-orang sombong dan licik di dunia. Keduanya kemudian menggunakan sistem komputasi dengan tenaga tinggi untuk menjalankan ratusan ribu permainan dan menyimpulkan bahwa strategi zero determinant tidak akan pernah menghasilkan suatu evolusi. 

"Melalui pengaturan yang evolusioner dan strategi populasi, Anda membutuhkan informasi ekstra untuk membedakan satu sama lain," kata Adami, seperti dikutip Livescience.

Ia menambahkan, strategi zero determinant hanya bekerja jika seorang pemain mengetahui strategi lawan dan mengadaptasinya. Orang yang menggunakan strategi zero determinant akan bermain secara satu arah dan melawan pemain yang kooperatif.


"Satu-satunya cara agar orang dengan startegi zero determinant dapat selamat adalah jika mereka mengenal lawannya," kata Hintze. Untuk memenangkannya, Hintze menyebutkan, diperlukan cara untuk mengubah strategi, bahkan dengan menjalankan apa yang dimiliki lawan, yaitu dengan menjadi lebih kooperatif.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/02/061501957/Penelitian-Orang-Sombong-Dihukum-oleh-Evolusi