Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Apa-Apa Saja Kebutuhan Bayi di Rumah

Asalasah ~ Suasana gembira menyambut kedatangan bayi dari rumah sakit. Di hari-hari awal bayi di rumah, ibu dan ayah masih kebingungan. Apa sih maunya si warga baru ini?

Bayi baru lahir/ilustrasi
Penelope Leach PhD, ahli psikologi anak yang terkenal dari Inggris memberikan beberapa tips tentang apa saja yang dibutuhkan bayi, ibu, dan sang ayah pada hari-hari pertama itu.

Kebutuhan bayi yang baru lahir, menurut Leach, masih sedikt, sederhana, tapi sifatnya berulang. Mereka memerlukan makanan dan minuman yang ada dalam kolostrum, dan susu. Mereka memerlukan kehangatan dan kenyamanan dari pelukan, atau pakaian yang lembut dalam tempat tidur yang aman. Mereka memerlukan kebersihan agar kulit lembut mereka tidak lecet, dan mereka memerlukan perlindungan dari dunia luar.

''Jangan buru-buru khawatir terhadap perawatan rutin seperti mandi, pakaian tidur khusus,'' kata psikolog yang menulis beberapa buku tentang perkembangan anak dan parenting yang laku kelas di beberapa negara itu.
Yang utama, tak perlu memaksakan rutinitas waktu makan, istirahat, dan tidur malam. Bayi yang baru lahir tidur-tidur ayam lebih banyak ketimbang tidur pulasnya. Mereka juga menyusu sedikit tetapi sering. Leach mengingatkan, Anda tak bisa memenuhi kebutuhan mereka dengan mengharapkan mereka dengan beberapa kali waktu makan dan bermain atau tidur dengan tenang selama beberapa jam.

''Pada hari-hari pertamanya di rumah, kebutuhan bayi Anda adalah Anda, ASI, dan kenyamanan,'' ujar Leach. Karena itu, selimuti bayi Anda, gendonglah ke dekat dada, beri ASI saat ia lapar, berbicaralah padanya ketika matanya menatap mata Anda. Berilah dia kenyamanan dan kedamaian. Beginilah nasihat Penelope Leach pada para ibu yang baru melahirkan. ''Cobalah untuk tak berharap terlalu banyak pada diri sendiri ketika Anda pertama membawa pulang bayi ke rumah,'' katanya.

Kendati persalinan berlangsung normal, menurut Leach, ibu tetap memerlukan bantuan dan ia berhak pendapatkannya. Setidaknya sampai hari beberapa hari setelah persalinan. Ibu memerlukan seseorang yang mengurusi rumah tangga dan mengurusi kebutuhan fisiknya. Ibu membutuhkan bantuan emosional dari seseorang yang memberikan kasih sayang padanya sementara ia melimpahi kasih sayangnya pada si bayi.

Mungkin suami bisa mengambil cuti di rumah dan melakukan semua itu sambil merekatkan diri dalam satu keluarga. ''Kalaupun suami bekerja, ia tetap menjadi orang yang bisa memberikan dukungan emosional pada Anda,'' ujar penulis buku klasik Your Baby & Child: From Birth to Age Five ini.

Menurut dia, seorang ibu yang baru melahirkan memerlukan seseorang untuk melakukan tugas-tugas praktis kerumahtanggaan. Orang itu bisa ibu, mertua, ipar, atau siapa saja. ''Tapi, mereka bukanlah orang yang tepat jika Anda merasa harus meladeninya seperti tamu atau sibuk memberi saran tentang perawatan bayi,'' katanya, ''Anda membutuhkan orang yang bisa mengepel rumah, sementara Anda membiasakan diri dengan kehadiran si orok.'' Pastikan juga Anda mendapat dukungan dari dokter anak yang bisa dihubungi setiap waktu jika Anda tiba-tiba bingung tentang keadaan si bayi.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/humaira/ibu-anak/13/05/23/mn8p1b-apa-saja-kebutuhan-bayi-di-rumah

Minggu, 18 Agustus 2013

Ditemukan Gen Penyebab Ibu Menjadi Pemarah

Ditemukan Gen Penyebab Ibu Pemarah
Asalasah ~ Ilmuwan Amerika Serikat telah mengidentifikasi penyebab seorang ibu bisa menjadi pemarah dan cenderung melakukan kekerasan pada anaknya. Hasil penelitian menunjukkan, adanya varian protein dalam gen seorang wanita memengaruhi perilakunya dalam pengasuhan anak, terutama ketika terjadi masalah ekonomi. Para ilmuwan menemukan 'pengasuhan keras' meningkat selama terjadinya Great Recession pada tahun 2007 sampai 2009 di AS.

“Umumnya, kesulitan ekonomi dianggap sebagai penyebab stres dalam keluarga yang akhirnya menurunkan kualitas pengasuhan,” ujar Dr Dohoon Lee, dari New York University, seperti dikutip laman Daily Mail, hari ini.

Namun rupanya, masalah ekonomi tidak sepenuhnya menjadi penyebab pengasuhan yang keras.Penelitian menemukan, lebih dari setengah orang tua AS memiliki gen yang dikenal sebagai DRD2. Gen ini mengontrol dopamin, perilaku, dan suasana hati yang akhirnya mengatur otak.

Penelitian yang dipublikasikan dalam National Academy of Sciences, mengatakan, variasi gen membuat si ibu bisa bereaksi lebih terhadap lingkungan mereka. Jadi, kondisi keuangan yang memburuk tidak akan memengaruhi pola asuh yang keras jika si ibu tidak memiliki gen sensitif ini.

Profesor Irwin Garfinkel, dari Universitas Columbia, mengatakan, “Temuan ini memberikan bukti lebih lanjut yang mendukung hipotesis anggrek-dandelion.” Manusia bisa dibedakan atas dua tipe kepribadiaan, yakni kepribadian anggrek dan kepribadian dandelion.

Manusia yang memiliki gen sensitif termasuk jenis anggrek. Ia akan layu dan mati pada lingkungan yang buruk, tapi akan berkembang pada lingkungan baik. Sementara itu, manusia dandelion tidak memiliki gen sensitif ini. Jadi, ia akan tetap bertahan di lingkungan apapun, baik lingkungan yang buruk atau lingkungan yang terawat.

Baca Juga: