Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Remaja Ini Hafal Quran 30 Jus dalam 4 Bulan

Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
Asalasah ~ Wajah senang dan penuh sumringah terpancar dari Muhammad Haris Busro Latif usai mendapatkan tanda kelulusan dan menerima ucapan selamat dari Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali.

Remaja usia 17 tahun ini mendapatkan apresiasi setelah ditetapkan sebagai santri Hafiz Quran lulusan Pondok Pesantren Sulaimaniyah Jakarta dengan waktu penghafalan Alquran 30 juz sangat cepat, yakni hanya 4 bulan 20 hari.

Ketika ditemui Republika usai menerima tanda kelulusan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Kamis (22/8). Remaja yang biasa disapa Haris itu tidak bisa menutupi kebahagiaannya.

Pasalnya, ia merupakan satu dari delapan lulusan Hafidz Quran Pondok Pesantren Sulaimaniyah angkatan ke-6,  yang berpredikat penghafal tercepat. Sedangkan 37 santri lulusan lainnya memiliki lama waktu menghafal Alquran 30 juz yang berkisar 8 bulan hingga lebih dari satu tahun.

Haris mengakui memang banyak cobaan untuk menghafalkan Al Quran 30 juz selama 4 bulan. "Awalnya memang sangat susah, namun berkat kesungguhan dan metodologi Turki Usmani yang diajarkan di pondok, Alhamdulillah saya bisa menghafal 30 juz dalam 4 bulan 20 hari," tuturnya.

Untuk menjaga kualitas hafalan, Ia menghindari berbagai hal yang dapat merusak kualitas hafalannya. Ia mengakui dalam waktu satu bulan ia bisa menghafal lebih dari lima juz, dan itu tergantung dari panjang pendeknya surah.

Remaja asal Mojokerto ini itu terlihat sangat senang . Ia dan 45 santri Hafidz Quran lulusan pesantren Sulaimaniyah pada Kamis malam itu juga langsung diberangkatkan ke Turki.
Haris yang sempat menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojokerto ini bersama 45 santri lulusan lainnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Turki.

Beasiswa yang hanya dikhususkan bagi santri penghafal Quran ini, diberikan pemerintah Turki atas bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag dengan  Pusat Persatuan Kebudayaan Islam di Indonesia (UICCI). Haris memiliki cita-cita besar setelah mengenyam pendidikan lanjutan di Istanbul Turki selama dua tahun. Ia berkeinginan menjadi hafidz Quran sekaligus pendakwah yang berkualitas di Indonesia.

Ia pun tidak keberatan apabila keputusan dari UICCI untuk ditugaskan berdakwah di luar negeri sekembalinya di Indonesia. Namun ia berharap kemampuan hafalan Quran dan ilmu keislamannya akan berguna lebih besar bagi umat Islam di Indonesia.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/08/22/mrxp1n-subhanallah-remaja-ini-hafal-30-juz-alquran-dalam-4-bulan

Sabtu, 24 Agustus 2013

Ide Kreatif Untuk Permudah Mendapatkan Tempat Parkir

Balon HERE sebagai salah satu ide untuk menghemat BBM yang dicetuskan perusahaan minyak di Korea Selatan
Asalasah ~ Satu perusahaan minyak Korea Selatan punya ide sederhana tapi jitu dalam menghemat BBM. Perusahaan minyak S-Oil punya ide menggunakan balon 'HERE', kata dalam Bahasa Inggris artinya 'di sini' untuk mengurangi waktu pengendara mencari tempat kosong di lapangan parkir yang luas.

Idenya sangat sederhana. Balon berwarna kuning terang berbentuk tanda panah ke bawah diikat di setiap tempat parkir. Saat kendaraan parkir, balon akan tertarik ke bawah oleh badan mobil sehingga tidak akan terlihat dari jauh.

Ketika lapak itu kosong, balon akan menyembul tinggi sehingga terlihat dari jauh oleh pengemudi yang sedang mencari tempat parkir. S-Oil memperkirakan rata-rata pengemudi di ibu kota Korea Selatan, Seoul menempuh 500 meter setiap kali mencari tempat parkir.

Dalam sebulan, mereka akan menempuh jarak 15 kilometer atau setara satu liter BBM hanya untuk mencari tempat parkir. S-Oil menghitung, penggunaan balon HERE di suatu lapangan parkir bisa menghemat waktu bagi 700 kendaraan atau menghemat 13 liter BBM setiap hari.

Kalikan dengan jumlah lapangan parkir dan hari, maka jumlah penghematan BBM yang dilakukan cukup signifikan. Situs Greencarreports memuji ide itu sebagai cara sederhana yang memuaskan dan mudah dalam menghemat BBM. Tapi mereka juga mengkritik ide balon HERE.

Pertama, balon berisi gas helium itu yang harus diisi secara berkala. Helium bukan gas terbarukan dan lebih penting digunakan untuk keperluan medis atau sains. "Belum lagi hampir tidak terhindarkan, ada anak-anak yang membawa gunting dan memotong tali, melepaskan balon," tulis situs tersebut.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/otomotif/mobil/13/08/06/mr3m1l-ingin-irit-bbm-bisa-tiru-ide-unik-dari-korea-ini

Senin, 29 Juli 2013

Imam Syafi'i Khatam Qur'an Sebanyak 60 Kali Tiap Ramadhan

http://asalasah.blogspot.com/2013/07/imam-syafii-khatam-quran-sebanyak-60.html
Asalasah ~  SUDAH berapa juz yang Anda baca hari ini? Atau mungkin sudah beberapa kali khattam ya.  Ramadhan dan Al Quran memang dua kenikmatan tak ternilai yang diberikan Allah kepada kita. Keduanya saling melengkapi, seolah tak terpisahkan. Ada ikatan hakikat dan fisik antara Al Quran dengan Ramadhan. Ikatan tersebut adalah Allah menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan, juga mewajibkan puasa.

Bagi Allah, membaca Al Quran merupakan ibadah paling utama di bulan Ramadhan yang suci ini, karena dengan senantiasa membaca Al Qur’an, kita mendapatkan banyak kebaikan.

Dipilihnya Ramadhan menjadi bulan puasa adalah karena Al Quran diturunkan pada bulan itu. Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

Rasulullah saw bersabda, “Al Quran ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan ini sesuai kemampuan kalian. Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang, obat yang bermanfaat. Terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, dan keselamatanlah bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diturunkan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah. karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Al Hakim)

Imam As Syafi’i mengkhatamkan Al Quran 60 kali selama bulan Ramadhan, di luar yang ia baca dalam shalat tarawih. Imam Abu Hanifah juga melakukan hal yang sama. Sebagian dari orang-orang shalih ada yang khatam setiap pekan dan ada pula yang khatam setiap sepuluh hari.

Ibnu Abdul Hakam berkisah tentang Imam Malik. ia berkata “Apabila masuk Ramadhan, biasanya Imam Malik meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu untuk mengkhususkan diri membaca Al Qur’an dengan melihat mushaf. Katanya “Ini bulan Al Quran, tidak pantas ada perkataan yang menyibukkan dari Al Quran.”

Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Ahmad. Konon, Imam Ahmad bin Hambal apabila memasuki bulan Ramadhan menutup majelis fatwanya dan duduk di masjid untuk berdzikir dan membaca Al Quran. Sedang Az Zuhry rahimahullah, apabila telah masuk bulan Ramadhan, ia berkata, “Ini adalah bulan membaca Al Quran dan bulan memberi makan (orang yang membutuhkan)”

Orang-orang shalih itu tidak hanya mengkhatamkan Al Qur’an melalui bacaan mushaf. Sebagian mereka biasa mengkhatamkan Al Quran dalam shalat pada setiap tiga malam. Sebagian lagi pada setiap sepuluh malam. Diantara mereka ada Abu Raja’ Al Atharly rahimahullah.

Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam lbadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al Qur’an kecuali dengan tadabbur.”

Asy Syahid Sayyid Quthb mengatakan dalam muqadimmah tafsirnya, “Hidup dalam naungan Al Quran adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.

Seperti juga dikatakan Imam Al Maraghi, “Ada dua kenikmatan di bulan Ramadhan, yaitu nikmat membaca Al Quran dan nikmat puasa. Nikmat ilmu dan cahaya (nur) serta hidayah yang diperoleh dari membaca Al Quran, dan nikmat sarana untuk menerima penghargaan anugera ini diperoleh dari (bulan) puasa.”

Memperbanyak membaca Al Qur’an dan atau mentadabburinya di bulan ini adalah dua hal yang bisa kita gabungkan. Atau mengkhususkan salah satunya. Semua akan berpahala besar sebagai penyempurna ibadah puasa kita.

Bagi seorang Muslim, pada bulan Ramadhan berkumpul dua jihad atas dirinya; jihad di waktu siang dalam rangka berpuasa, serta jihad di waktu malam dalam rangka shalat dan membaca Al Qur’an. Barangsiapa yang mengumpulkan kedua jihad ini, serta menunaikan keduanya seraya bersabar, maka pahalanya akan dipenuhi tanpa batas.

Ka’ab berkata, “Pada hari kiamat akan terdengar seruan, “Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya para ahli Al Quran dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batasan.”

Pergunakan kesempatan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui tilawah Al Quran. Waktu terus berputar dan tidak akan pernah kembali. Jangan sampai kita menyesal, karena tidak pernah berinteraksi dengan Al Quran, yang pada bulan Ramadhan akan menjadi ladang amal kita yang luar biasa dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Baca Juga:  

Rabu, 24 Juli 2013

Kisah Vian, Rela jadi Mualaf walaupun Menderita

Virgiawan Sentosa
Asalasah ~ Virgiawan Sentosa harus menjalankan puasanya tanpa sahur. Dia hanya menenggak air putih untuk membuat tubuh cekingnya bertahan. Pemuda itu harus berjuang hidup di Pasar Kemiri, Depok, menjual kantong plastik.

Vian, nama sapaannya, baru dua pekan ini resmi menjadi mualaf. Dia mengucap syahadat di Masjid Cut Meutia, Jakarta.

“Aku selalu berpikiran bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampau kekuatan hambanya. Maka dari itu aku selalu percaya bahwa Allah akan selalu memberi jalan”, ujar Vian, saat diwawancara melalui telepon, di Jakarta, Senin (15/7)

Vian berasal dari Bandung. Kedua orangtuanya beragama Katolik. Sejak kecil, Vian pun dididik dengan tata cara Katolik. Hanya, kegelisahan melanda Vian duduk di bangku SD. Dia selalu merasakan kegelisahan dalam hatinya.

Menurutnya, ketika itu  dia selalu merasa tidak tenang, sedih, dan bahkan menangis. Saat  masuk SMP, dia pun sering bermain dengan temannya di belakang komplek. Mayoritas teman-temannya adalah seorang Muslim. Sehingga, dia sering diajak untuk ikut ke mushola pada saat teman-temannya melaksakan sholat.

Diam-diam, Vian sering memperhatikan ibadah kawan-kawan sepermainannya itu. Dia memperhatikan bagaimana gerakan-gerakan sholat, apa saja syarat untuk sholat dan sebagainya.

Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, gerakan-gerakan sholat ini dipraktikkan oleh Vian di rumahnya meski belum memahami apa saja bacaan-bacaannya.
Sejak SMP, Vian sering tidak masuk kegiatan ibadah di gereja meski mengaku kepada ibunya jika dia pergi ke Gereja. Dia mengaku, sudah tidak lagi ingin mempelajari tentang agama Katolik dan berniat meninggalkannya. 

Di masa SMA hati Vian semakin mantap untuk terus mempelajari segala hal tentang Islam. Walaupun secara diam-diam, dia tidak pernah putus asa mencari tahu tentang agama Islam ini.

Dia juga sering mencari keterangan dari teman-temannya. Hanya saja caranya adalah dengan tidak terlalu ingin tahu tentang Islam sehingga teman-temannya memberi informasi tanpa curiga meski dengan semangat memberikan jawaban yang diinginkan oleh Vian.

Semakin hari kecintaanya terhadap Islam semakin besar hingga akhirnya ia lulus SMA dan di terima di peguruan tinggi Institut Teknologi Bandung di jurusan Teknik Mesin.

Namun, di tengah-tengah perkulihannya, ia tidak bisa diam-diam terus untuk mempelajari Agama Islam. Dia pun bertekad untuk berkata jujur kepada kedua orang tuanya. Resiko sebesar apapun siap ia hadapi demi menjadi seorang Muslim.

Akhirnya tekad itu pun bulat, dia berkata jujur kepada ketua orang tuanya mengenai hal yang selama ini dilakukan semenjak SD. Mengetahu hal tersebut, kedua orang tua Vian sangat murka dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Vian.

Beberapa pukulan oleh ayahnya di didapatkan oleh Vian. Lalu akhirnya, orang tuanya memberikan pilihan kepada Vian untuk tetap melanjutkan perkuliahannya dan tetap bergama Katolik atau segera angkat kaki dari rumah.

Karena kecintaannya kepada Islam sangat besar, ia pun memilih untuk pergi dari rumah berbekal sepotong kaos dan celana. Vian lantas pergi ke daerah Depok. Ketika itu, dia belum mengucapkan syahadat.

Surat-surat penting seperti Ijazah tidak di perkenankan oleh orang tuanya untuk di bawa olehnya. Karena orang tua nya telah berpikiran, dengan seperti itu, anaknya tidak akan lama bertahan hidup di jalanan dan akan segera kembali ke rumah.

Namun tekad Vian sudah bulat dan tetap pergi ke Depok mencari tempat tinggal baru. Sesampainya di Depok, ia menginap di sebuah rumah temannya yang beragama Katolik. Hanya, saat mengetahui niat Vian menjadi mualaf, dia pun diminta pergi.

Vian kemudian pindah ke Masjid Al Huda yang masih berada di daerah  Depok. Satu malam ia menginap di masjid itu dan bertanya kepada pengurus masjid, dimana ia bisa masuk Islam dan dibuatkan sertifikatnya.

Pengurus masjid memberi tahu bahwa di Masjid Cut Meutia yang berada di Jakarta Pusat, ia bisa masuk Islam dan mendapatkan sertifikat yang membuktikan bahwa ia adalah seorang yang beragama Islam.

Lalu ia pun langsung bergegas ke Masjid Cut Meutia tersebut. Sesampainya disana, ia mengutarakan maksud dari kedatangannya. Akhirnya, Vian  pun menjadi seorang Muslim.

Bak telaga di tengah padang tandus, Vian mengucap syahadat. Dia tidak pernah menyesal telah memeluk agama Islam. Di tengah cobaan yang ia temui, ia selalu berpikir bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan yang melampaui kekuatan hamba-NYA.

Setelah menjadi Muslim, Vian kembali ke Depok dan tinggal di mushola yang berada di terminal Depok. Kesehariannya adalah menjual beberapa lembar kantong plastik.

Maksimal dalam satu hari pendapatan yang ia hasilkan hanya sebesar Rp 7 Ribu . Walaupun tidak seberapa, namun ia tetap bersyukur dari apa yang ia dapatkan. Ia biasanya menjual-jual plastik tersebut dari jam 6 pagi hingga jam 11 siang.

Beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal karena serangan jantung. Disaat itu dia tidak memiliki uang untuk kembali ke Bandung.

Namun ia mengingat Ustaz Abdul Latief, seorang saksi pada saat Vian masuk Islam sekaligus pengurus Masjid Cut Meutia. Dia menceritakan semuanya kepada Ustaz, dan tidak tahu apa yang harus di lakukan olehnya. Akhirnya Ustaz Abdul Latief memberikan ongkos kepada Vian dan akhirnya Vian bisa pulang ke Bandung dan ingin melihat ayahnya untuk terakhir kalinya.

Sesampainya rumah di Bandung, tetap tidak ada perubahan dari ibunya. Vian dituduh sebagai biang keladi kematian ayahnya. Sebentar, dia melihat ayahnya, kemudian pergi meninggalkan rumah  atas permintaan ibunya.

Sebelum pergi, Vian mencoba memohon kepada ibunya agar memaafkannya dan memberikan surat-surat penting bagi Vian seperti ijazah. Namun, ibu Vian masih bersikeras dan tetap  tidak memberikan surat itu.

Akhirnya Vian pun kembali ke Depok dengan tidak membawa apa-apa. Kecintaannya terhadap Islam dibuktikan dengan berbagai resiko yang ia dapatkan. Demi Islam, ia rela hidupnya terlunta-lunta di jalanan. Dia percaya, Allah akan selalu membantunya dengan berbagai cara.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/07/19/mq17vm-vian-sang-mualaf-putus-kuliah-hingga-diusir-orang-tua