Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2013

Kisah Pria Denpasar Mendapat Hidayah Memeluk Islam

Mualaf (ilustrasi).
Asalasah ~ DENPASAR -- Hidayah datang menghampiri Wika Mandala Warsita (21 tahun). Pria yang menetap di Desa Dalung, Kabupaten Badung, itu mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid al Ikhlas, Denpasar.

"Saya memeluk Islam dengan ikhlas, tanpa ada yang memaksa," kata Wika, Ahad (1/9).

Pengislaman Wika dilakukan Imam Masjid Al Ikhlas, H Nur Zaenudin. Disaksikan H Suwandi dan H Junaidi. Puluhan jamaah shalat dzuhur turut menyaksikan pengislaman itu.

Wika memeluk Islam atas seizin ibunya dan diketahui oleh saudara-saudaranya. Salah seorang pamannya, Ponco juga sebelumnya telah memeluk Islam, menjelaskan bahwa Wika sudah belajar agama Islam sejak dua tahun silam.

Wika belajar agama Islam masih dengan sembunyi-sembunyi. Bulan Ramadhan lalu, dia mulai berani terang-terangan. Dan saat ini dia telah menyatakan dengan tegas sikapnya dalam hal memilih keyakinan.

"Tuhan saya Allah, nabi saya Muhammad SAW dan agama saya adalah Islam," ujar Wika mantap, ketika ditanya Nur Zaenudin, di sela-sela pengislaman.

Bukan hanya sudah belajar agama Islam, seperti sholat dan membaca Al Quran, Wika juga sudah berkhitan sepekan yang lalu. Hal itu sebut mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Denpasar itu, sebagai bukti kesriusannya dalam ber-Islam.

"Saya juga berharap, agar orang tua dan saudara-saudara saya kelak juga mendapatakan hidayah sebagaimana yang saya dapatkan," harap Wika.

Nur Zaenudin dalam tausiah pengislaman mengatakan dengan menyatakan diri sebagai muslim, maka Wika diminta memahami. Tidak semua kebiasaan yang boleh dikerjakan dalam agama sebelumnya, boleh dilakukan setelah menjadi muslim. Misalnya, memakan daging bagi, itu dilarang dalam agama Islam.

"Saya sarankan kepada Wika untuk menyucikan diri dari hadats besar, dengan mandi besar. Ini untuk memulai keidupan sebagai muslim," katanya.

Baca Juga:  

  • Wanita Jepang Mengungkap Ukuran Payudara Cukup 'C-...
  • Perbesar Payudara Secara Alami Dari Bahan Rumahan
  • Alasan Kenapa Banyak Orang Indonesia Jatuh Sakit

  • Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/09/01/msg81y-kisah-mualaf-ikhlas-memeluk-islam

    Jumat, 13 September 2013

    Apa Itu Shalat Sunnah Rawatib Dan Ketentuannya

    Asalasah ~ DARI Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 72).

    “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata: “Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

    Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua rakaat setelah jumat.”
    Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi r mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

    Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430).

    Semua dalil di atas secara gamblang menjelaskan soal shalat sunnah, atau dalam hal ini shalat sunnah Rawatib. Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah penyerta sholat farduu (yang berada sebelum dan setelah shalat wajib).

    Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
    1. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
    2. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
    3. 2 rakaat setelah zuhur
    4. 4 rakaat sebelum ashar
    5. 2 rakaat setelah jumat.
    6. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
    7. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
    Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?

    Dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
    Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

    Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

    Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata: “Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

    Adapun shalat sunnah sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya shalat sunnah sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu Ta’ala a’lam. [sanlat]

    Baca Juga:  

    Kamis, 12 September 2013

    Tuntunan Pengertian Masbuk Dan Ketentuan Sebenarnya

    Asalasah ~ KITA mungkin pernah atau juga sering shalat berjama’ah namun imam sudah memulai shalat. Apakah itu kita datangnya pada pertengahan rakaat pertama, rakaat kedua dan seterusnya. Inilah yang disebut dengan masbuk.

    Dalam keseharian ada bermacam-macam cara orang masbuk. Ada yang setelah takbiratul ihram, dia langsung mengikuti imam, apakah pada saat itu imam sedang sujud, sedang duduk antara dua sujud atau duduk tasyahud akhir. Ada juga yang menunggu imam imam berdiri dahulu untuk rakaat berikutnya.

    Ada yang melihat situasi, kalau shalat belum hampir selesai dan imam belum tahyat askhir, maka ia menunggu dahulu imam berdiri, tapi kalau ternyata imam sudah tahyat akhir maka ia baru takbiratul ihram, kemudian mengikuti imam yang sedang tahyat akhir. Nah manakah cara masbuk yang benar menurut aturan syariahnya?

    Siapakah Makmum Masbuk?
    Masbuk sendiri dalam pengertian awam adalah orang yang terlambat dalam mengikuti shalat berjama’ah. Namun terlambat yang bagaimana? Ulama memiliki 2 (dua) pandangan.

    Pendapat pertama yaitu pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan bahwa seorang makmum disebut masbuq itu apabila ia tertinggal ruku’ bersama imam.   Jika seorang makmum mendapati imam sedang ruku’, kemudian ia ruku bersama imam, maka ia mendapatkan satu raka’at dan tidak disebut masbuq. Dan gugurlah kewajiban membaca surat al-Fatihah. Dalil-dalil dari pendapat yang pertama adalah sebagai berikut:
    “Siapa yang mendapatkan ruku’, maka ia mendapatkan satu raka’at”. (HR. Abu Dawud, FIqh Islam-Sulaiman Rasyid : 116)

    Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “ Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu raka’at) dan siapa yang mendapatkan ruku’, bererti ia mendapat satu rak’at dalam sholat (nya)”. ( H.R Abu Dawud 1 : 207, Aunul Ma’bud – Syarah Sunan Abu Dawud 3 : 145 )

    Jumhur Ulama berkata: “Yang dimaksud dengan raka’at disni adalah ruku’, maka yang mendapati imam sedang ruku’ kemudian ia ruku’ maka ia mendapatkan satu raka’at. (Al-Mu’in Al-Mubin 1 : 93, Aunul Ma’bud 3 : 145)

    “Sesungguhnya Abu Bakrah telah datang untuk solat bersama Nabi SAW (sedangkan) Nabi SAW dalam keadaan ruku’, kemudian ia ruku’ sebelum sampai menuju shaf. Hal itu disampaikan kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda (kepadanya) : ‘Semoga Allah menambahkan kesungguhanmu, tetapi jangan kamu ulangi lagi.”

    Sedangkan pendapat kedua mengatakan kalau  seseorang itu masbuk pabila ia tertinggal bacaan surat Al-Fatihah. Ini adalah pendapat segolongan ulama.

    Bagaimanakah Seharusnya Makmum Masbuk?
    Apakah harus menunggu imam berdiri dahulu, atau kalau imam sedang tahyat akhir, baru mengikuti gerakan imam yang tahyat, atau mengikuti pada posisi mana imam saat makmum masbuk tersebut memulai shalatnya.

    Dalil Pertama:
    Dari Abdul Aziz bin Rofi’ dari seorang laki-laki (yakni, Abdullah bin Mughoffal Al-Muzaniy) -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri atau ruku’, atau sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tak mendapati ruku’nya”. [HR.  Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/281/no.3373), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/296/no. 3434), dan Al-Marwaziy dalam Masa'il Ahmad wa Ishaq (1/127/1) sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1188)]

    Faedah : Kata ( الرَّكْعَةَ ) bisa bermakna raka’at, dan bisa juga bermakna ruku’. Namun dalam riwayat hadits Abdullah bin Mughoffal ini, yang dimaksud adalah ruku’. Hal itu dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur Abdul Aziz bin Rofi’ di sisi Al-Baihaqiy dari Abdullah bin Mughoffal -radhiyallahu ‘anhu-

    Dalil kedua
    Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika kalian datang, sedang imam ruku’, maka ruku’lah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tak ada ruku’ yang bersamanya”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/89/no.2409)] [myrhil]

    Baca Juga:  

    Salah Satu Tanda Akhir Zaman: Perang Di mana-Mana

    Asalasah ~ Dari Abu Hurairah Ra., katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hari qiamat tidak akan terjadi sehingga harta benda melimpah ruah dan timbul banyak fitnah (ujian, kesesatan, kekufuran, kegilaan, penderitaan, mushibah) serta sering terjadi “al-Harj”. Sahabat bertanya, “Apakah al-Harj itu hai Rasulullah?”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Peperangan, peperangan, peperangan. Beliau mengucapkannya tiga kali,” (HR. Ibnu Majah).

    REALITAS dunia hari ini membuktikan kebenaran sabda junjungan kita Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Harta-benda melimpah-ruah. Banyak alat-alat modem yang dihasilkan oleh teknologi Barat dan Timur sehingga bertambah banyak peralatan dan keperluan hidup.

    Maka oleh karena itu banyak orang berlomba-lomba meraup untuk meraih keuntungan dalam memproduksi dan memperdagangkan alat- alat tersebut. Karena masing-masing tamak dan rakus, maka terjadilah perebutan yang mengakibatkan berlakunya peperangan demi peperangan.

    Dari hari ke hari peperangan berkobar dengan tidak henti- hentinya. Padam di suatu tempat, menyala pula di tempat lain. Satu sama lain saling cakar mencakar. Semakin maju teknologi, semakin tersiksa manusia karenanya.

    Sebenamya teknologi tidaklah bertentangan dengan Islam, tetapi teknologi itu mestilah patuh di bawah etika kemanusiaan yang didukung oleh Islam itu sendiri.

    Sedangkan teknologi yang dikemukakan oleh dunia barat pada hari ini didasarkan kepada kepentingan pribadi dan mengikuti hawa nafsu yang rakus sehingga teknologi itu digunakan untuk menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

    Kelihatannya, begitulah keadaan yang akan berlaku dari umur dunia ini, sehingga sampai ke titik akhir, yaitu qiamat. [akhir zaman]

    Baca Juga:  

    Selasa, 10 September 2013

    Menangis Karena Satu Ayat Al-Qur'an

    shalat-malamAsalasah ~ Pada suatu malam, Muhammad Ibnu al-Munkadir melakukan Qiyamullail, ia menangis bahkan semakin keras menangis sehingga keluarganya kaget lalu bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis seperti ini.?” Mereka merasa heran, apalagi tangannya semakin keras.

    Kemudian keluarganya menemui Abi Hazm untuk memberitahukan masalah ini. Abu Hazm datang ke rumahnya sementara ia pun masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang membuatmu menangis seperti ini, tangisan yang membuat keluargamu keheranan.?” Dia menjawab, “Aku tadi membaca salah satu ayat al-Qur’an.” Beliau bertanya, “Aya apa gerangan.?” Ia menjawab, “

    وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللهِ مَا لَمْ يَكُوْنُوْا يَحْتَسِبُوْنَ
    “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS.az-Zumar:47)

    Abu Hazm pun ikut menangis bahkan semakin keras tangisan keduanya. Kemudian salah seorang keluarga al-Munkadir berkata, “Kami memanggilmu untuk menenangkan kami dari tangisnya, mengapa engkau malah menambah susah kami.?”

    Kemudian beliau membertahu penyebab mereka berdua menangis.

    Baca Juga:  

    Senin, 02 September 2013

    Penyebab Indonesia Krisis Ulama Menurut Menteri Agama

    Asalasah ~ Menteri Agama, Suryadharma Ali menyatakan, Indonesia mengalami krisis ulama pada era sekarang ini. Krisis itu lantaran menurunnya minat masyarakat memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren (ponpes) untuk dididik ilmu agama.
     
    Menteri Agama RI Suryadharma Ali memimpin sidang Isbat di Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (8/7).  (Republika/Rakhmawaty La'lang)
    "Kita sering mendapatkan informasi, kurangnya atau menurunnya minat anak didik menempuh ilmu agama dan berkurangnya pengajaran kitab kuning di ponpes," katanya di Pekalongan, Rabu (21/8).
    Krisis ulama itu diperkirakan akan lebih parah lagi dalam jangka waktu 10 hingga 15 tahun ke depan karena berkurangnya regenerasi ulama. "Ulama yang wafat dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan belum tentu bisa segera tergantikan. Hal ini tentunya menjadi problematika sehingga kita harus mengintrospeksi, mengapa itu terjadi," katanya.

    Menurut Menag, untuk menghindari krisis ulama ini maka lembaga ponpes harus terus berusaha meningkatkan eksistensinya pada era modernitas. "Harus disadari pula oleh masyarakat bahwa sistem pendidikan di ponpes sangatlah luar biasa. Tidak ada sistim pendidikan dimana pun yang proses belajar mengajarnya secara total seperti di ponpes," katanya.

    Menag yang juga Ketua Umum DPP PPP itu mengatakan, ponpes harus senantiasa meningkatkan konten dalam kegiatan belajar mengajarnya dengan sumber ilmu atau ajaran yang paling komprehensif, yaitu Alquran dan Hadist. "Jangan parsialkan Alquran dan hadist. Akan tetapi mari kita pelajari secara menyeluruh sebagai modal belajar memasuki dunia modern seperti sekarang ini," katanya.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/08/22/mrwt6m-indonesia-krisis-ulama-ini-penyebabnya

    Jumat, 30 Agustus 2013

    Kisah Akibat Tidak Peduli Seruan Azan

    Azan (ilustrasi)
    Asalasah ~ Sudah setahun Anwar sekolah di kota, di sebuah madrasah tingkat Aliyah. Dia bangga sekali, karena tidak semua anak lulusan Tsanawiyah di desanya dapat melanjutkan pendidikan menengah atas di ibu kota propinsi.

    Sebagian besar hanya melanjutkan sekolah di ibu kota kabupaten atau malah berhenti sekolah dan mulai bekerja di sawah atau ladang membantu orang tua yang umumnya petani.
      
    Liburan setelah ujian smester dua kali ini dia manfaatkan untuk pulang ke desa berkumpul dengan teman-teman sebaya.

    Berbagai macam agenda sudah tersusun di kepalanya, salah satunya yang paling menarik adalah makan bersama dengan teman-teman sebaya.

    Mereka iyuran membeli bahan-bahan masakan yang diperlukan, bisa berupa uang atau bahan mentahnya langsung. Mereka akan masak sendiri, dengan kemampuan sekadarnya, yang penting tidak asin.

    Bekal ilmu memasaknya paling-paling dari sekali-sekali memperhatikan ibu atau kakak perempuannya memasak di dapur.

    Membayangkan acara makan bersama itu, Anwar tidak sabar segera sampai di desa. Perjalanan 60 km dengan mobil dirasakannya terlalu lama.
      
    Pada hari H, sepuluh anak remaja sudah berkumpul di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari pinggir sungai. Itulah tempat favorit mereka.

    Pada saat azan Zhuhur berkumandang, mereka tengah sibuk-sibuknya memasak sambil bercanda penuh tawa. Sebenarnya Anwar ingin segera ke masjid melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah seperti yang sudah biasa dilakukannya sejak kecil.

    Ayahnya selalu membimbingnya shalat berjamaah ke masjid. Sejak sekolah dasar sampai tamat Tsanawiyah dia sudah terbiasa shalat di masjid. Sebenarnya motif utamanya shalat berjamaah di masjid adalah karena takut ayahnya.

    Kalau ketahuan tidak shalat di masjid, ayahnya pasti marah besar. Ingat ayahnya, Anwar ingin segera shalat ke masjid meninggalkan teman-temannya. Tetapi dia merasa tidak enak, apalagi masakan hampir matang.
      
    Sedang bimbang begitu, ayahnya lewat menuju masjid dan mengingatkan Anwar untuk segera ke masjid. Dia mengangguk, tetapi tidak melaksanakannya.

    Begitu ayahnya kembali dari masjid dan melihat Anwar masih  bersama teman-temannya di bawah pohon, beliau marah dan segera memanggil puteranya dengan suara keras: "War, apabila acaramu selesai, segera ke rumah!"

    Untunglah ayahnya masih memberinya kesempatan menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan susah payah. Tetapi hati Anwar sudah tidak tenang, ayahnya pasti marah besar. Dia siap menerima hukuman yang akan diberikan.
      
    Setelah benar-benar menerima hukuman, Anwar kaget bukan kepalang. Hukumannya benar-benar di luar dugaannya. Dengan tenang ayahnya memutuskan: "Anwar, kamu tidak boleh kembali ke kota. Kamu harus berhenti sekolah. Tinggal saja di desa bertani, lalu menikah!''

    ''Tidak ada gunanya kamu sekolah tinggi di kota, kalau hasilnya kamu mengabaikan panggilan azan. Ayah tidak ingin kamu sekolah tinggi tetapi tidak peduli dengan panggilan shalat. Baru setahun kamu di kota, kamu sudah berani meninggalkan shalat berjamaah di masjid."
      
    Anwar tahu watak bapaknya. Jika sudah memutuskan sesuatu, sukar untuk mengubahnya. Dia minta maaf sambil menangis, tetapi keputusan tetap tidak berubah.

    Liburan sekolah sudah habis seminggu yang lalu, tetapi dia belum juga diberi izin kembali ke kota. Anwar betul-betul sangat menyesal telah mengabaikan panggilan shalat Zhuhur di masjid. Walaupun sebenarnya, baru sekali itu dia lakukan. Tapi penyesalan tidak ada gunanya.
      
    Untunglah kemudian, pamannya membantu membujuk ayahnya dan menjamin pelanggaran itu tidak akan terulang kembali. Akhirnya ayahnya membolehkannya kembali sekolah ke kota atas jaminan pamannya itu.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/08/24/ms09tm-akibat-tidak-peduli-seruan-azan

    Kisah Pria Atheis Yang Akhirnya Memeluk Agama Islam

    http://asalasah.blogspot.com/2013/08/kisah-pria-atheis-yang-akhirnya-memeluk-agama-islam.html
    Asalasah ~ Bagi Laurence, Islam sangatlah sesuai dengan keyakinannya.
    Orangtua mana yang tak merasa bahagia atas kelahiran anak mereka? Perasaan itulah yang membuncah di dalam hati Laurence Brown saat bayi perempuan kecilnya terlahir. Kebahagiaan Laurence luntur seketika dan berubah menjadi ketakutan, karena bayi mungilnya divonis mengalami kelainan di arteri besar jantungnya.

    Akibat kelainan itu, jantung Hanna --  nama anak perempuan Laurence itu -- tak bisa memasok oksigen ke seluruh tubuh mungilnya. Akibatnya tubuh bagian bawah sang gadis kecil terlihat membiru, seolah mati.

    Dokter pun segera membawa Hanna ke ruang rawat intensif untuk menanganinya lebih lanjut. Laurence menyadari, penyakit yang diderita anaknya adalah masalah kecil yang banyak membuat orang meninggal. Dan mereka meninggal dengan cara yang tidak menyenangkan. Mereka harus menjalani operasi dan mengkonsumsi obat. Lalu beberapa tahun kemudian dioperasi lagi, dan terus begitu sampai ajal menjemput.

    Menyaksikan kondisi putrinya yang lemah tak berdaya itu membuat lulusan tiga perguruan tinggi terkemuka, Cornell University, Brown Medical School, dan George Washington University itu tidak bisa mengontrol diri. Untuk pertama kalian, Laurence tak mampu menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya.

    Sebelumnya, Laurence selalu berupaya mengatasi kesulitannya yang dihadapinya. Ketika  membutuhkan lebih banyak uang, ia akan bekerja lebih keras agar memperoleh lebih banyak uang. Kali itu, ia benar-benar terpojok. Tak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan buah hatinya.

    ‘’Untuk pertama kalinya dalam hidup saya membutuhkan pertolongan,” ujar Laurence dalam The Deen Show, sebuah talkshow yang mengisahkan perjalanan hidup para mualaf. Laurance yang atheis alias tak mempercayai Tuhan baru tersadar. Ia membutuhkan bantuan Dia yang Maha Agung.

    Laurence dibesarkan tanpa agama. Dia tidak pernah mengenal Tuhan. Kejadian ini justru membuatnya berkenalan dengan sosok yang dipercayai menjadi Pencipta. Melihat kondisi anaknya, ia melangkahkan kaki untuk pertama kalinya ke dalam ruang doa.

    Dengan cara seorang atheis, ia berdoa kepada Tuhan.  “Tuhan, jika Engkau memang ada, maka selamatkanlah jiwaku — jika aku mempunyai jiwa. Aku butuh pertolongan-Mu.”
    Ia lalu bernazar, ‘’Apabila Tuhan dapat menyelamatkan anak gadisnya dan menuntunnya pada agama yang paling Dia senangi, maka ia akan menjalankan agama tersebut.’’ Janji yang menurutnya cukup sederhana.

    Tuhan pun mendengarkan doanya. Tuhan menyelamatkan anaknya dari kelainan jantung yang dideritanya. Hanna tidak harus dioperasi dan tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan. Ia dapat tumbuh dewasa seperti anak-anak seumurnya.

    Tentulah Laurence amat bahagia. Tim medis pun memberikan penjelasan yang logis bagi Laurence dan diri mereka sendiri mengenai kesembuhan Hanna. Tapi bagi Laurence, tidak ada penjelasan yang lebih logis daripada kuasa Tuhan atas kesembuhan Hanna.

    Tuhan telah melaksanakan janjinya. Maka Laurence pun harus melaksanakan janjinya, yaitu menjalankan agama Tuhan. Pertama ia mempelajari Yahudi, namun kemudian ia berpindah ke Kristen. “Saya pikir saya menemukannya di dalam Kristen,” katanya ketika menceritakan pengalaman spiritualnya dalam mencari kebenaran.

    Selama bertahun-tahun Laurence mencari kebenaran di dalam Kristen. Ia mengikuti berbagai jenis kebaktian, sekte, dan gereja Kristen. Ia ikut serta dalam sekte Quaker (perkumpulan agama sahabat, muncul di Inggris pada abad ke-17), Mormon, Katolik Roma, Yunani Ortodoks dan masih banyak lagi. Namun tidak satu pun yang dapat memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hatinya.

    Pensiunan perwira Angkatan Udara Amerika Serikat dengan pangkat mayor ini sering berdiskusi dengan pendeta mengenai beberapa hal tentang Kristen, namun pendeta tersebut tidak memberinya jawaban yang memuaskan. “Saya menyukai beberapa ajaran di dalam Kristen, tapi ada juga beberapa yang saya tidak mengerti dan mereka tidak bisa menjawabnya.”

    Salah satu pertanyaan yang diajukannya kepada pendeta adalah mengenai fondasi agama itu sendiri. Seperti halnya trinitas. Setelah menelusuri Alkitab, ia tidak menemukan pernyataan yang mengatakan konsep trinitas. Tuhan, seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama, adalah satu.

    Ketika ia membicarakan hal itu, pendetanya malah berkata, “Oh itu, saya lupa.” Laurence sangat terkejut. Bagaimana mungkin hal sepenting itu dan  menjadi landasan dalam agama dilupakan begitu saja.

    Hal lain yang mengganggunya adalah keberadaan Yesus Kristus sebagai seorang Anak Tuhan. Penulis buku MisGod’ed, God’ed, dan The Eighth Scroll ini percaya bahwa Yesus adalah seorang manusia yang diutus sebagai nabi bagi umatnya. “Saya meminta kepada pendeta agar mereka membuktikan kepada saya bahwa Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan,” cetus Laurence.

    Sebanyak 88 kali Yesus menyebut dirinya sebagai Anak Manusia di dalam Alkitab. Laurence tidak menemukan satu kalimat pun di dalam Alkitab yang menyatakan Yesus mengklaim dirinya sebagai anak Tuhan. Yesus yang merupakan pendeta Yahudi itu tidak pernah mengajarkan kepada setiap umatnya untuk menanggung dosa-dosa yang dilakukan Adam.

    Setiap ayah tidak menanggung dosa anaknya, dan setiap anak tidak menanggung dosa ayahnya. Hal inilah yang selama ini menjadi pedoman setiap umat Kristen, yang diajarkan oleh Paulus. Namun kenyataannya, Yesus tidak pernah mengajarkan hal itu. “Setiap orang menanggung dosanya masing-masing,” kata Laurence mengutip dari Alkitab.

    Karena ada dua ajaran yang ditemukannya, ajaran Yesus dan Paulus, Laurence harus membuat pilihan. Ia lebih nyaman dengan ajaran Yesus.  Ia pun mengikuti ajaran Yesus sang Nabi Allah. Laurence berhenti mempelajari Kristen karena agama tersebut tidak sesuai dengan keyakinannya.

    Ia mempercayai Yesus adalah seorang Nabi, alih-alih seorang anak Tuhan. Semakin mempelajari Kristen dan berusaha untuk menjadi Kristiani yang taat, kian ia menyadari agama ini tidaklah cocok. Tidak satu sekte pun yang merepresentasikan keyakinannya, sampai ia menemukan Islam.

    Ia menemukan dalam Alkitab Yesus berkata akan ada Nabi terakhir setelah dirinya. Muhammad datang membawa agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, yaitu Islam. Dan bagi Laurence Islam sangatlah sesuai dengan keyakinan yang ia miliki. Ia pun mulai membaca Alquran dan buku-buku tentang Islam.

    Dan setelah itu tidak ada lagi keraguan baginya untuk tidak memeluk Islam. “Buku-buku tersebut menjelaskan dengan jelas mengenai keyakinan yang saya anut. Dan karena itulah saya memilih Islam,” ujarnya bahagia.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/08/15/mrfyp7-pria-atheis-ini-akhirnya-menemukan-sang-pencipta-dalam-islam

    Zahnrader, Wadah Himpunan Muslim di Jerman

    Muslim Jerman (Illustrasi)
    Asalasah ~ Anak-anak muda Muslim Jerman berhimpun. Mereka masuk pada sebuah wadah, Zahnrader (Gear Wheels). Mereka berpendidikan dan berlatar dari berbagai mazhab Islam. Pekerjaan anak-anak muda itu ada yang di pemasaran, insinyur, dan perusahaan teknologi informasi.

    Mereka menyebut dirinya sebagai pembuat perubahan dan para social entrepreneur. Gerakan mereka memang ingin menawarkan beragam perubahan. Proyek-proyek, utamanya memberikan layanan bagi masyarakat. Termasuk, meningkatkan kesempatan belajar.

    Menurut laporan laman berita Deutsche Welle, Kamis (22/8), Zahnrader sekarang sudah beroperasi lebih dari tiga tahun. Pada 2012, organisasi ini pernah bermitra dengan Ashoka, sebuah organisasi sosial entrepreneur terbesar di dunia.

    Mereka pun menuai dukungan British Council dan Islamic Relief. “Zahnrader juga menjawab pertanyaan soal integrasi,” kata Ali Aslan Gumusay, anggota Dewan Direktur Zahnrader. Ia menambahkan, jaringan kerja yang luas sangat dibutuhkan.

    Muslim, kata Gumusay, selama ini ingin berintegrasi. Namun, terkadang bingung sejauh mana integrasi dilakukan dan bagaimana caranya. Ia mengatakan, Zahnrader adalah sarana yang sesuai untuk membuat langkah integrasi lebih efektif.

    Menurut calon doktor di Said Business School of Oxford University ini, Zahnrader memiliki 90 anggota aktif. “Kami menggerakkan proyek-proyek yang berdampak positif bagi masyarakat luas.” Biasanya ada lembaga yang mengajukan proyek ke Zahnrader.

    Sejumlah proposal kegiatan dibahas dalam konferensi tahunan Zahnrader. Dari konferensi inilah ditetapkan kegiatan kemanusiaan apa yang pantas didukung dan memperoleh penghargaan.

    Salah satu program yang masuk berasal dari Deaf Islam Association (DIA), yang didirikan tahun 2010 oleh Ege Karar dari Aachen.

    DIA, yang mengadvokasi Muslim tunarungu, dipilih dari 50 proyek yang diajukan konferensi Zahnrader tahun 2013. Pertimbangannya, aktivitas DIA melahirkan manfaat positif. Mereka memberi perhatian kepada kelompok imigran tunarungu yang selama ini terabaikan.

    Saat ini, masih sedikit penerjemah bahasa Arab dan Turki bagi 2.300 Muslim tunarungu yang hidup di Jerman. Seperti bahasa percakapan, bahasa isyarat bagi tunarungu berbeda dari satu negara dibandingkan negara lainnya.

    Selain itu, sudah ada serangkaian diskusi di Hamburg. Isinya mengenai upaya pelatihan bagi penerjemah bahasa isyarat. Nantinya, penerjamah itu dipekerjakan di masjid-masjid. Karar mengatakan, butuh perhatian besar untuk para tunarungu itu.

    “Masih banyak Muslim di Jerman yang kurang peduli dengan kebutuhan saudara Muslim yang tunarungu ini,” ujar Karar. Padahal, organisasi Islam di Inggris dan AS telah lama memberikan perhatian pada masalah tersebut.

    Karar menambahkan, setelah dipilih oleh Zahnrader sebagai program kegiatan, kepedulian semakin meningkat. Banyak pemuda Muslim, ia mengungkapkan, yang terdorong untuk mempelajari bahasa isyarat. Mereka ingin membantu saudara mereka yang tak bisa mendengar itu.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/08/23/mrz5k2-zahnrader-jejaring-sosial-muslim-jerman

    Senin, 05 Agustus 2013

    Kisah Penghuni Surga Terakhir

    Asalasah ~ Rasulullah SAW pernah mengisahkan perihal ghaib di akhirat kelak. Tertawa sekaligus menangis ketika mendengar salah satu kisah akhirat, yakni tentang penghuni surga terakhir. Kasih sayang dan rahmat Allah yang luas tampak dalam hikmah kisah tersebut.

    Alkisah, terdapat seorang yang berada di neraka. Ia terus berusaha melewati dahsyatnya panas api neraka. Terkadang ia mampu berjalan kaki, namun sesekali terjatuh telungkup, sering kali hangus dibakar api neraka. Jatuh bangun ia berusaha melewati siksaan demi siksaan. Acap kali berhasil selangkah, ia mengharap bantuan Allah.

    Dengan tertatih dan dalam waktu yang lama, ia pun berhasil meninggalkan neraka. Segera ia berseru, "Segala puji Allah yang menyelamatkanku darimu, hai neraka!" Tentu saja, dia bersyukur, karena tak ada yang mampu melewati neraka kecuali dia.

    Namun, keluar dari neraka bukan akhir dari penderitaan atas hukuman bermaksiat di dunia. Ia masih merasakan panas yang sangat dan begitu kehausan. Ia pun melihat sekeliling dan tertuju pada sebuah pohon. Namun, jaraknya sangat jauh. Ia pun meminta kepada Allah agar mendekatkannya,

    "Ya Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh di bawahnya dan meminum airnya," pinta orang itu.

    Allah pun bertanya padanya, "Wahai cucu Adam, jika aku dekatkan kau ke pohon itu, apa kau akan meminta hal lain lagi kepada-Ku?" Orang itu pun segera menjawab, "Tidak wahai Rabbku, aku berjanji tidak akan meminta hal lain," ujarnya yang tak sabar menikmati keteduhan di bawah pohon setelah sekian lama dihukum di neraka.

    Saat itu, pohon yang di hadapan matanya sangat menggiurkan. Allah pun mengabulkan permintaannya. Ia pun berada di bawah pohon itu, kemudian segera meminum air darinya.

     Namun setelah itu, ia kembali melihat sebatang pohon yang lebih rindang dan indah dari pohon pertama yang ia telah berteduh di bawahnya.

    Melihatnya, lupa sudah janjinya. Ia kembali meminta pertolongan Allah agar didekatkan pada pohon kedua itu. "Wahai Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh di bawahnya dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta hal lain lagi," pintanya.

    Allah pun berfirman, "Hai cucu Adam, bukankah kau telah berjanji tak akan meminta hal lain?"  Orang itu pun menjawab, "Iya, benar ya Allah, tapi kali ini saja .... Aku benar-benar tak akan meminta hal lain lagi," pintanya, merengek.

    Allah pun memaklumi dan dengan kasih sayang-Nya, Allah mendekatkan orang itu ke pohon kedua. Orang itu pun dapat berteduh di pohon yang jauh lebih indah dan rindang dari pohon pertama.

    Namun ternyata, pohon kedua itu berada dekat dengan pintu surga. Setiba di pohon tersebut, ia mendengar suara penghuni surga yang diliputi kebahagiaan. Apa daya, ia tak kuasa ingin memasukinya. Lagi, ia melanggar janjinya dengan Allah. Ia kembali meminta kepada Allah, ia ingin agar Allah memasukkannya ke dalam surga.

    "Ya Allah ya Rabb, masukkanlah aku ke sana," pintanya, menunjuk pada surga yang kenikmatannya tak pernah terbayang oleh manusia di bumi.

    Allah Taala pun kembali berkata, "Hai cucu Adam! Hal apa yang membuatmu puas, apakah kau ingin Aku berikan dunia dan segala isinya?!"

    Orang itu pun menjawab, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku .... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," ujarnya.

    Allah pun tertawa seraya berfirman, "Aku tidak mengejekmu, tapi Aku Mahakuasa mewujudkan apa yang kau inginkan."

    Maka, dimasukkanlah orang itu ke dalam surga dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia pun berkumpul dengan hamba Allah yang lain yang tak pernah menyekutukan-Nya. Dia pun menjadi orang terakhir yang masuk surga, sang penghuni surga terakhir.

    Kisah tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas'ud. Dalam riwayat tersebut juga disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud tertawa saat menceritakannya pada sahabat Rasulullah yang lain. Beliau tertawa saat mengisahkan bagian si penghuni surga terakhir menginginkan surga.

    Saat bagian si penghuni surga terakhir berkata kepada Allah, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku .... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," Ibnu Mas'ud pun tertawa. Ia berkata kepada orang-orang yang mendengar kisah itu, "Apa kalian ingin bertanya mengapa aku tertawa?" Para sahabat lain pun menjawab, "Iya, mengapa kau tertawa?"

    Ibnu Mas'ud pun menjawab, "Karena aku melihat Rasulullah tertawa (saat mengisahkan hal sama). (Saat mendengar kisah itu dari Rasulullah), aku pun bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?" Beliau pun menjawab, "Karena Tuhanku, Tuhan seluruh alam, juga tertawa," sabda Rasulullah.

    Baca Juga:  

    Senin, 29 Juli 2013

    200 Juta Muslim Kalah oleh Seorang di Balik Uang Kertas

    http://asalasah.blogspot.com/2013/07/200-juta-muslim-kalah-oleh-seorang-di.htmlAsalasah ~ Oleh: Nurman Kholis

    PADA masa Rasulullah SAW hingga masa Sayidina Abu Bakar, umat Islam gunakan dinar (uang emas) dari Romawi yang ada inskripsi kristiani berikut salib dan gunakan dirham (uang perak) dari Persia berikut inskripsi Majusi dan gambar Kisra.

    Namun, pada masa Kekhalifahan sayidina Umar RA, tahun 20 H beliau menambahkan inskripsi Islami seperti basmalah, Allahu Akbar dsb pada dirham sehingga dalam uang perak ini bercampur inskripsi Majusi dan Islami. Namun, pada masa Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, dinar dan dirham dicetak dengan inskripsi Islami tanpa inskripsi Kristiani dan Majusi. Jadi, jika mengacu kepada hadits dalam pengertian segala ucapan, perbuatan, dan ketentuan yang disandarkan kepada Nabi, berarti dinar dan dirham itu berinskripsi Kristiani dan Majusi.

    Namun, jika mengacu kepada sunnah dalam pengertian tradisi yang dilakukan oleh Nabi dan juga para khalifahnya yang lurus, berarti pada mata uang tsb harus berinskripsi Islami. Berdasarkan catatan sejarah, tidak ada seorang pun yang memprotes ijtihad sayidina Umar dan Abdul Malik bin Marwan RA tersebut.

    Lalu bagaimana dengan jumlah rakaat shalat sunnah berjamaah Tarawih yang 20 rakat, dengan shalat berjamaah Tarawih 11 rakat yang muncul belakangan?

    Barangkali salah satu penyebab kemunduran umat Islam di Indonesia ini juga karena sibuk berdebat tentang angka 11 dan 20 pada jumlah rakaat tarawih, namun diam saja terhadap angka 1 dolar tahun 1946 = rp 2 kini = rp. 10.000 hingga berbagai kekayaan alam di negeri ini semakin murah dan mudah ditukar dengan kertas-kertas kecil dari Amerika tersebut.

    Pertukaran ini jelas jelas tidak hanya tidak sesuai ajaran agama manapun tapi tidak sesuai dengan akal. “Ya Allah ampunilah dosa para pendahulu kami yang sholatnya jangankan mampu untuk mencegah, melihat kemungkaran di balik penggantian dinar dan dirham dengan uang kertas pun tidak. Sebaliknya, mereka sibuk selain berdebat tentang angka 11 dan 20 juga sibuk berdebat tentang angkat tangan atau tidak pada rakaat kedua salat subuh, namun membiarkan sekian kekayaan alam di negeri ini terus diangkat karena terus menerus ditukar dengan hanya kertas kertas kecil bernama dolar dan sebagainya.

    Hingga umat Islam banyak yang sengsara dan hina dina. 200 jutaan muslim di negeri ini pun dapat dikalahkan 1 atau segelintir orang yang mengendalikan sistem uang kertas. Wa Allahu a’lam.

    Baca Juga:  

    Jumat, 26 Juli 2013

    Perbuatan Makruh Saat Berpuasa

    Asalasah ~ Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan puasanya menjadi rusak. Hal-hal itu meskipun tidak merusak puasa itu sendiri, tetapi terkadang dapat menjadikan perantara menuju rusaknya puasa. Dan karenanya dimakruhkan, di antaranya adalah:

    1. Berlebih-lebihan dalam berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung, lalu menghirupnya dengan sekali nafas sampai ke dalam hidung yang paling ujung) ketika berwudhu'.

    Hal itu didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Laqith bin Shabrah:

    "Bersungguh-sungguhlah dalam berkumur dan dalam menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa." [1]

    Dan jika ada air kumur atau istinsyaq yang masuk ke dalam perutnya secara sengaja, maka menurut ijma' puasanya batal, dan dia harus mengqadha'nya. Tetapi jika masuknya air tanpa disengaja, maka terdapat dua pendapat dari para ulama.

    2. Mencium.
    Dimakruhkan untuk mencium bagi orang yang sedang berpuasa, karena ciuman terkadang dapat membangkitkan nafsu syahwat yang dapat merusak puasanya, baik dalam bentuk keluarnya sperma maupun dengan hubungan badan. Tidak ada perbedaan dalam hal itu, baik antara anak muda maupun orang tua. Jadi, yang dihindari adalah gejolak syahwat dan keluarnya sperma. Demikian juga dengan peluk cium, sentuhan tangan dan lain-lain yang dapat membangkitkan gejolak nafsu.

    3. Memandang secara terus-menerus kepada isteri atau budak perempuan jika hal tersebut dapat membangkitkan nafsu syahwat, karena hal itu terkadang dapat menyebabkan puasanya rusak.

    4. Berfikir dan membayangkan masalah hubungan badan (jima'), karena hal itu bisa mendorong dirinya untuk berfikir mengarah kepada pengeluaran sperma atau muncul keberanian untuk melakukan hubungan badan. Dan ini jelas dapat merusak puasanya dan menceburkan dirinya ke dalam dosa.

    5. Mengunyah permen karet.
    Jika permen karet ini mengandung unsur cairan yang bisa ditelan oleh orang yang berpuasa, sebagaimana permen karet yang populer sekarang ini, maka hal ini jelas haram dan dapat membatalkan puasa.

    Dan jika tidak mengandung unsur di atas sama sekali, seperti misalnya potongan karet, maka yang demikian itu makruh dan tidak diharamkan.

    6. Mencicipi makanan.
    Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk mencicipi makanan dari kuah atau yang lainnya, jika tidak ada sesuatu pun yang sampai ke perutnya. Jika ada sesuatu yang masuk ke dalam perutnya maka puasanya batal. Dan jika memerlukannya untuk kepentingan anak kecil atau orang sakit atau yang semisalnya, maka tidak dimakruhkan, karena merupakan hal yang sangat darurat.

    7. Wishal (berturut-turut tanpa berbuka).
    Dimakruhkan wishal dalam berpuasa. Pada hakikatnya yang dilarang adalah berpuasa dua hari atau lebih tanpa sedikit pun mengkonsumsi makanan atau minuman sepanjang siang dan malam. Dan jika memakan atau meminum sesuatu walaupun sedikit, maka hal itu tidak disebut sebagai wishal. Dengan ke-makruhannya, wishal tidak membatalkan puasa.

    Dan hikmah dari larangan berpuasa secara wishal ini adalah agar tubuh tidak menjadi lemah untuk menunaikan berbagai kewajiban. Bahkan terkadang tubuh bisa tertimpa bahaya yang cukup serius, yang bisa berpengaruh terhadap indera dan anggota tubuh.

    8. Mengumpulkan ludah dan menelannya, demikian juga menelan dahak. [2]
    Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk mengumpulkan ludah dan menelannya atau menelan dahak, karena hal itu bisa masuk ke dalam perut dan mengenyangkannya. Dan itu jelas bertentangan dengan hikmah puasa.

    9. Mencium bebauan apa yang tidak dijamin aman dari mencium baunya atau membuat nafasnya menelan bau tertentu sampai ke tenggerokan, seperti wangi-wangian (parfum), kapur barus, dupa/kemenyan dan yang lainnya.

    10. Sebagian ulama memakruhkan siwak (gosok gigi) setelah zawal (tergelincirnya matahari atau waktu menjelang Zhuhur).

    Dan yang shahih, siwak itu disyari'atkan sebelum zawal dan setelahnya pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Tetapi, pada bulan Ramadhan harus dihindari benda-benda basah yang mengan-dung air, yang terkadang dapat masuk ke dalam perutnya.

    Baca Juga:  

    Selasa, 23 Juli 2013

    Ulama Arab: Haram Tonton Sinetron Dalam Ramadhan

    Asalasah ~ Ulama dari Dewan Ulama Senior Arab Saudi Ali Al-Hakmi menyatakan menonton siaran opera sabun atau sinetron selama Ramadhan tidak dibenarkan menurut ajaran Islam. Ia memperingatkan sinetron adalah tayangan yang penuh dengan pelanggaran terhadap ajaran agama.

    Al-Hakmi juga mengatakan sebaiknya Muslim juga tidak menonton iklannya. Ia menambahkan, orang yang harus terjaga hingga larut malam hanya untuk menonton siaran tersebut dan meninggalkan shalat telah berdosa dan harus bertobat.

    "Seluruh tayangan sinetron itu hanya membuang-buang waktu. Belum lagi pelanggaran terhadap ajaran agama di dalamnya. Ramadhan hanya satu bulan selama setahun. Bulan suci ini harus dimanfaatkan Muslim untuk bertobat," kata Al-Hakmi seperti dilansir Arabnews, Rabu (17/7).

    Al-Hakmi mengatakan pemilik stasiun televisi satelit telah terbuai oleh kecintaan materi dan kebendaan. Menurutnya, masyarakat sekarang terbuai oleh kesenangan duniawi, seperti makanan, minuman dan  pakaian. Ia berpandangan sebaiknya Muslim menonton program ilmiah dan sejarah daripada menonton sinetron.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/puasa-mancanegara/13/07/17/mq208l-ulama-arab-haram-tonton-sinetron-selama-ramadhan

    Senin, 22 Juli 2013

    Umrah Backpacker Kian Diminati

    Asalasah ~ Banyak kaum Muslim selama Ramadhan yang merindukan Tanah Suci. Karena itu, ghairah untuk bisa berkunjung ke Makkah mau pun Madinah tidak bisa ditahan. Untuk menyiasati agar perjalanan spiritualnya tidak menguras kantong, tidak sedikit di antara mereka memilih umrah secara backpacker.

    PT Makara Wisata adalah pelopor penyelenggara umrah dengan biaya murah. Perjalanan spiritual yang seharusnya membutuhkan biaya cukup besar bisa ditekan karena fasilitas yang disediakan disesuaikan kocek. Meski begitu, peminat umrah backpacker lumayan besar.

    "Sekarang di kantor tinggal saya sendiri, karena pegawai lainnya sedang berada di Tanah Suci mengantarkan jamaah umrah backpacker," kata pengurus PT Makara Wisata Muhammad Fitrullah, Selasa (16/7).

    Beda umrah backpacker dengan reguler adalah dari segi harga. Tahun ini, kata Fitrullah, umrah versi hemat hanya dikenakan biaya Rp 12 juta atau sekitar Rp 5 juta di bawah tarif normal. Hanya saja, karena lebih murah, konsekuensinya beberapa fasilitas dikurangi. Untuk menyiasati itu, sambungnya, jamaah yang berangkat diutamakan berusia di bawah 40 tahun, karena membutuhkan fisik sempurna.

    Keunggulan umrah backpacker, ia melanjutkan, jamaah bisa lebih fleksibel dalam menunaikan aktivitasnya di sana. Misalnya, mereka tidak harus ke penginapan atau pemondokan karena masuk jam makan. Alhasil, jamaah lebih leluasa dalam beribadah karena bisa membawa bekal sendiri. "Jadinya, jamaah bisa sepuasnya beribadah di Tanah Haram."

    Banyaknya peminat jamaah umrah backpacker selama Ramadhan dapat dimaklumi. Menurut Fitrullah, rata-rata mereka rindu ingin menghabiskan bulan suci ini di Baitullah dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan spiritualnya.

    Dengan berada di Makkah dan Madinah, kata dia, jamaah ada yang berharap bisa lebih khusuk dalam iktikaf mau pun bisa meraih malam lailatul qadar karena berada di tempat diijabahnya doa. "Jamaah ingin doanya dikabulkan, makanya hingga akhir Ramadhan berada di sana. Baru, pulang ke Indonesia usai Lebaran," ujarnya.

    Baca Juga:  
    Sumber: http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/13/07/16/mq0owk-umrah-backpacker-jadi-pilihan